Kumpulankutipan RA Kartini di Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, mengenang perjuangan sang pahlawan mencetuskan emansipasi perempuan. - Halaman all Senin, 6 Juni 2022
Sesuaidengan surat Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang Program SM-3T Tahun 2015, melalui program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) pemerintah kembali mengundang para sarjana pendidikan terbaik untuk ikut maju bersama mencerdaskan indonesia melalui Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal
JAKARTA KOMPAS.com- Kartini merupakan sebuah film biografi dari tokoh emansipasi wanita, R.A. Kartini, yang dibesut oleh sutradara Hanung Bramantyo pada 2017. Film ini menjadi penampilan ketiga Kartini di layar lebar setelah biografi R.A. Kartini (1984), dan kisah fiksi asmara Kartini, Surat Cinta Untuk Kartini (2016).. Bercerita tentang Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang tumbuh dengan melihat
KhususSurat Cinta untuk Kartini, film ini merupakan cerita fiksi dengan latar belakang sejarah. Latar belakang sejarah seorang RA. Kartini yang semangat mendedikasikan hidupnya guna pendidikan wanita Indonesia digabungkan dengan tokoh Wadi yang fiksi. Cerita fiksi pun dibangun antara keduanya hingga menjadi satu kisah yang menarik untuk diikuti.
Alasanmereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah.
RadenAdjeng Kartini, seorang pejuang emansipasi wanita yang lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879. R.A Kartini merupakan anak dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan bupati Jepara dan M.A. Ngasirah. Lahir dari keluarga bangsawan membuat R.A Kartini dapat merasakan apa yang dimaksud dengan mengenyam pendidikan yang
. NASKAH DRAMA KARTINI 1. Kartini Cerdas,Gemar Membaca,Patuh pada Orangtua.Lilis,Iva 2. Ayah Kartini Bijaksana,Taat Pada Hukum Adat. Khotim Raden Mas Adipati Ario Ardi Atomo 3. Ibu Kartini Baik,Penyayang,Taat Pada Hukum Adat. Mayang Ngasirah 4. Suami Kartini Pengertian, Penyayang. Evita Adipati Ario 5. Abendanon Orang Belanda,Baik,Bijaksana. Dewi 6. Murid Kartini 1 Wanita Pribumi. Nanda 7. Murid Kartini 2 Wanita Pribumi. Milaya DRAMA Adegan. 1 Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka.Narator Lilis - Kamar Kartini merenung di dalam kamar, mengingat perkataan Ayahnya yang melarangnya untuk bersekolah lagi karena menurut adat istiadat wanita seumurannya sudah dipingit. Kartini sedih, kesal, dan masih ingin bersekolah lagi untuk menambah pengetahuan dan teman. Ruang Tamu Khotim Bertolak Pinggang Marah “Kamu itu sudah waktunya untuk dipingit, kamu itu perempuan. Tidak harus sekolah tinggi-tinggipun tidak apa-apa.” Iva Menatap Ayah sedih “Tapi Romo. Aku ingin mempunyai banyak pengetahuan dan juga banyak teman apa itu salah!.” Mayang Membelai rambut Kartini “Kanjeng Ibu mengerti maksud kamu Cah Ayu, tapi adat istiadat itu ndak boleh dilanggar.” Adegan. 2 Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian 12 tahun Kartini sudah dipingit. Dalam masa pingitannya ini Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Narator Lilis - Kamar Kartini membaca buku. Perlahan membuka lembaran-lembaran buku dan kertas lain satu persatu kemudian menunduk. “Seandainya saja aku bisa sekolah pasti akan ada banyak ilmu yang bisa kudapat dan bisa memiliki banyak teman.” Afifah, pengisi suara Adegan. 3 Suatu hari tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1901Kartini menuliskan sebuah surat kepada Abendanon dan Ny. Abendon “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam Sunatullah sendiri ke tangannya menjadi ibu, mendidik manusia yang pertama-tama”. Adegan 4 Pada 12 November 1903 saat usianya 24 tahun kartini kemudian dinikahkan dengan bupati Rembang Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Keinginan Kartini terus memperjuangkan pendidikan untuk kaum wanita tidak berhenti sampai disitu. Kartini meminta izin pada suaminya untuk membuka sekolah bagi kaum wanita. Dan suaminyapun mendukung.Narator Evita Duduk Membaca Koran Lilis Berdiri Disamping Suami “Kalo aku buat sekolah wanita disini, menurut kang mas bagaimana?.” Evita Masih Membaca Buku “Yok wis, ra opo – opo. Itu keinginan yang bagus. Aku setuju – setuju saja.” Adegan. 5 Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia. Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Lilis Memegang buku,mengajar dalam ruang kelas“Bagaimana, sudah mengerti?.” Nanda Mencoba memahami “Sudah , Terima Kasih ya mba yu.” Milaya Bangkit Berdiri “Wis ,aku pulang dulu sudah sore.” Lilis “Iya Benar, Milaya Pimpin doa yo.” - Pada 13 September 1904 anak pertama Kartini dilahirkan anak itu diber nama Soesalit, namun sayang pada 17 September 1904 Kartini Wafat. Beberapa hari setelah melahiorkan anak pertamanya. Ia meninggal pada usia 25 Tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. - Akhirnya berkat kegigihan dan dukungan dari suaminya Kartini mendirikan sekolah wanita pada tahun 1912 di Semarang kemudian Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Dewi- Ruang Tamu - Setelah Kartini Wafat, Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat – surat yang ditulis oleh Kartini kepada kawan – kawannya di Eropa. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Dewi Membereskan kertas - kertas yang berserakan “Semua ini adalah pengalaman berharga.” - Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Walaupun Kartini sudah meninggal namun perjuangannya untuk kaum wanita akan tetap terus berlanjut. Kartinilah yang membuat terjadinya perubahan pada kaum wanita saat ini. Emansipasi wanita telah terjadi. Perjuangan selanjutnya akan dilanjutkan oleh seluruh wanita Indonesia selanjutnya. -Selamat Jalan Raden Ayu. Jasamu takkan dilupakan- Ini hanya naskah drama singkat. Sobatdeul bisa mengembangkan ceritanya kok... Sekian, Terimakasih Moga Bermanfaat
Solo - Kisah pahlawan nasional asal Jepara ini, yang terkenal dengan kumpulan suratnya yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata sudah tiga kali difilmkan. Selain film berjudul Kartini 2017 dan Surat Cinta Kartini 2010, ternyata masih ada satu judul lagi yaitu Kartini 1982. Berikut kisah tentang film jadul Tentang Film Kartini 1982Film Kartini 1982 karya sutradara Sjumandjaja ini dibintangi oleh sederet aktor kondang pada masa itu, di antaranya adalah Yenny Rachman, Nani Widjaya, Bambang Hermanto dan Adi sampul VCD-nya dituliskan, film ini pernah meraih Piala Citra Terbaik 1983 untuk delapan kategori yaitu film, sutradara, aktris pendukung, skenario, sinematografi, penyuntingan, penata artistik, dan penata musik. Dikutip dari laman Film Indonesia, film yang diangkat dari buku Biografi Kartini karya Sitisoemandari Soeroto ini semula berdurasi 127 menit. Setelah dikoreksi, berdasarkan versi yang diputar di Kineforum Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 8 Maret 2017, durasi filmnya menjadi 163 Sinopsis film Kartini 1982Raden Ajeng Kartini lahir di Mayong, Jepara tanggal 21 April 1879. Ayahnya RM Aryo Sosroningrat, Wedana Jepara. Ibunya Mas Ayu Ngasirah, selir ayahnya. Meski demikian, Kartini mendapat pendidikan yang sama seperti adik-adik dan kakak-kakaknya dari lain pendidikan dan rajinnya membaca, seperti buku terbitan Belanda, Max Havelaar, Kartini mulai melihat kenyataan aneh di lingkungannya. Di lingkup kabupaten, hidupnya terasa berlebihan. Sementara di luar, untuk sesuap nasi saja para wanita harus bekerja itu, ibunya RA Kartini sendiri tidak berhak untuk makan bersama dengan ayahnya. Kartini pun merasakan hidupnya dilingkupi kesewenangan laki-laki. Jiwanya menjerit. Terlebih setelah ia menginjak dewasa. Kartini bersama saudara-saudara perempuan lainnya harus menjalankan kebiasaan Kartini itu kemudian diprotes keras oleh teman Kartini yaitu suami-istri Asisten Residen dan Residennya sendiri. Akhirnya mereka berhasil mengeluarkan Kartini, Kardinah, dan Rukmini dari pingitan. Sehingga, Kartini bisa mengajar membatik kepada para wanita dan Kardinah kemudian mendirikan sekolah di Kabupaten Jepara untuk memajukan kaumnya. Sekolah ini mendapat sambutan baik dari wanita-wanita, baik kaum ningrat maupun rakyat di saat sebagian cita-cita Kartini sudah terwujud, ia dipinang oleh Bupati Rembang Djojoadinigrat. Lamaran itu sebenarnya tidak dia inginkan karena takut cita-citanya kandas. Namun, pada masa itu tidak lazim menolak lamaran seorang Kartini terpaksa menerima lamaran itu dengan syarat suaminya membolehkan Kartini meneruskan cita-citanya. Bupati Djojoadiningrat menyetujui syarat tersebut. Kartini kemudian kawin dengan Bupati Djojoadiningrat, setelah istrinya, Soekarmilah, sutradara Sjumandjaja mendekati kisah populer ini dengan sikap romantik. Kopi 35 mm / VHS judul ini dapat diakses dari Koleksi Sinematek Indonesia. Namun, kamu juga bisa menontonnya secara utuh di Youtube. Selamat menyaksikan. Simak Video "5 Film Indonesia dengan Penonton Terbanyak Sepanjang Sejarah" [GambasVideo 20detik] dil/sip
Sejarah Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April, tak terlepas dari kisah dan pemikiran inspiratif dari sosok RA Kartini, putri Jawa yang dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan. Raden Ajeng Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang berkat pemikirannya membuat emansipasi wanita kian meluaskan peran di masa kolonial, terikat pula dengan norma-norma budaya patriartki dalam kehidupannya sebagai perempuan Jawa, peran perempuan dianggap tak setara dengan laki-laki. Pemikirannya lugas menentang budaya turun temurun tentang peran perempuan yang lazimnya hanya menjalani kehidupan sebagai isteri, ibu dan dianggap tak mampu melakoni peran laki-laki. Seperti diberitakan Selasa 21/4/2020, Pengamat Sejarah Edy Tegoeh Joelijanto mengatakan bahwa RA Kartini ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya 'konco wingking'. Baca juga Hari Kartini, Kemenkes Dorong Perempuan Berani Cuti Haid Artinya, perempuan bisa berperan lebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam bidang pendidikan. "Perempuan juga bisa menentukan pilihan hidup, tak harus atas paksaan orantua dan perempuan juga bisa sekolah setinggi-tingginya," kata Edy yang pernah mengenyam pendidikan di UKDW Yogyakarta dan Universitas Putra Bangsa literatur sejarah, RA Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Putri Jawa yang dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan yang dibesarkan di sebuah keluarga ningrat Jawa. Ayahnya seorang Bupati Jepara bernama Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat, dan ibunya, putri dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara, bernama Ngasirah. Baca juga Kisah Kartini yang Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun Kartini berasal dari keluarga yang terpandang. Seperti diberitakan Selasa 21/4/2020 lalu, kakeknya adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati di usia yang sangat muda, yakni 25 tahun. Selain dari keluarga terpandang, ia juga berasal dari keluarga yang dikenal cerdas. Sebab, kakak laki-lakinya, Sosrokartono, dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang bahasa. Perjuangan untuk pendidikan perempuan Di masa itu, belum banyak perempuan yang dapat mengenyam pendidikan. Tidak seperti saat ini, baik laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Hingga usia 12 tahun, RA Kartini akhirnya memperoleh pendidikan di Europes Lagere School ELS, dan semua murid di sekolah ini diwajibkan berbahasa Belanda. Namun, tradisi Jawa menghentikan langkah putri Jawa itu mengenyam pendidikan di sekolah. Baca juga Kartini Bukan Cuma Penulis Surat, Dia Wartawati Pertama Nusantara
- Raden Ajeng Kartini adalah sosok inspiratif yang ulang tahunnya dirayakan secara nasional sebagai Hari Kartini. Sosoknya sangat identik dengan emansipasi wanita sehingga dianggap berjasa bagi bangsa Indonesia. Jika Kartini tak memperjuangkan hak wanita agar bisa setara dengan pria, tak bisa dibayangkan bagaimana wanita Indomesia mengisi hari setelah kemerdekaan. Tak heran, bnayak orang yang terinspirasi dengan sosoknya dan membuat film untuk mengenang Kartini. Yuk kita simak lagi, 3 film yang pernah dibuat demi mengingat lagi perjuangan RA Kartini di tanah air. Kartini 2017Film Kartini yang disutradari oleh Hanung Bramantyo ini dimainkan ole banyak bintang populer. Dian Sastro mendapat keberuntungan untuk memerankan sosoknya yang kalem dan inspiratif. Baca Juga Petualangan Sherina HUT Ke-23, Yura Yunita Beri Hadiah Remake Lagu Lihatlah Lebih Dekat Selain memiliki kemiripan dari segi fisik, sosok Dian Sastro juga dianggap cerdas dan sesuai dengan karakter RA Kartini yang kritis dan berpikir maju. Kamu sudah nonton film yang tayang tahun 2017 lalu ini? Poster film Kartini. Dok GoogleSurat Cinta untuk Kartini 2016Setahun sebelum Kartini rilis, ada sebuah film yang juga didedikasikan untuk RA Kartini. Berbeda dengan film Kartini karya Hanung, film ini bertema fiksi alias tidak sesuai dengan kisah nyata. Diperankan oleh Rania Putisari yang memerankan Kartini, film ini bercerita tentang wanita yang mendirikan sekolah untuk rakyat kecil dan memberikan perhatiannya untuk kaum wanita di tanah air. Diceritakan juga jika Kartini jatuh cinta dengan sosok Sarwadi yang diperankan oleh Chicco Jerikho namun cinta keduanya kandas karena Kartini menerima pinangan Bupati Rembang. Surat Cinta untuk Kartini. Youtube/MNCP MovieRA Kartini 1982Di tahun yang lebih lawas, ada film Kartini karya sutradara Sjumandjaya yang berjudul 'RA Kartini'. Film ini bisa mengambil kisah dari buku biografi Kartini karya Sitisoemandari Soeroto. Baca Juga 4 Film Action Barat Paling Menegangkan dan Wajib Kamu Saksikan! Diperankan oleh Yenny Rachman, film ini menceritakan tentang kehidupan Kartini dari kecil hingga tutup usia di umur 25 tahun. Sederet artis lain yang juga memainkan peran di film ini adalah Adi Kurdi dan bambang Hermanto.
67% found this document useful 6 votes13K views4 pagesDescriptionSEMOGA BERMANFAATCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?67% found this document useful 6 votes13K views4 pagesNaskah Drama KartiniJump to Page You are on page 1of 4 You're Reading a Free Preview Page 3 is not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
drama tentang ra kartini